SEPUTARBANUA.COM, Banjarmasin- Sejumlah pedagang pakaian import atau Thrifting menilai bukan mereka yang merusak pasar konveksi dan tekstil di Indonesia. Mereka menilai produk dari Cina yang selama ini merusak pasar.
Salah seorang pedagang Thrifting di kawasan pasar Niaga Banjarmasin, Amat mengaku keberatan kalau Menteri Keuangan Purbaya menghentikan impor pakaian bekas tersebut.
” Tidak sebanding kalau kami yang disebut sebagai pesaing produk konveksi nasional, kami ini barang bekas sementara mereka barang baru,” katanya usai berjualan Minggu (2/11) siang.
Ditambahkannya, barang baru harusnya bersaing dengan barang baru juga. ” Itu produk dari Cina yang dijual online, seratus ribuan dapat empat sampai lima estel,” ujarnya.
Tak berbeda dengan Amat, Nurjanah juga menganggap Thrifting bukan yang merusak pasar tapi produk Cina.
” Harusnya pemerintah stop marketplace yang jual produk Cina yang murahnya tidak ketolongan itu. Jangan kami yang dijadikan kambing hitam,” tegasnya.
Para pedagang Thrifting, sambungnya adalah pengusaha UMKM yang harusnya dilindungi pemerintah bukannya dimatikan dengan cara pasokan barangnya dihentikan seperti ini.
Menurut Janah, para yang berdagang Thrifting banyak yang dulunya karyawan dan pegawai tetapi karena covid-19 yang lalu mereka di PHK dan sekarang memilih usaha ini.
” Kami mencari penghidupan di sini, pemerintah harusnya fokus membuka lapangan pekerjaan biar kami dapat pekerjaan lagi,” papar wanita yang dulunya karyawan sebuah bank swasta nasional ini.
Baik Amat maupun Janah berharap Kemenkeu dapat meninjau ulang kebijakan penghentian import pakaian balbalan itu. ” Tolonglah pak Menteri biar kami tetap punya usaha, kalau distop kami mau kerja apalagi ” tutur mereka berdua. ( Arya).






