Jumat, 17 April 2026
spot_img

Lim Hans Pria Kandangan yang Karya Seninya Besar di Jogyakarta

SEPUTARBANUA.COM, Banjarmasin – Di antara denting nada dan irama kehidupan, seorang pria sederhana bernama Lim Hansyah menemukan makna terdalam dari perjalanan hidupnya. Bagi banyak orang, musik hanyalah hiburan.

Tapi, bagi pria kelahiran Kandangan, Kalimantan Selatan 1964, yang akrab disapa Lim Hans ini, musik adalah napas kehidupan—sebuah bahasa jiwa yang tak pernah berhenti berbicara.

Sejak masih duduk di kelas dua SD, Lim Hans kecil telah terpikat oleh alunan melodi. Dari rumahnya yang sederhana, ia mulai mengenal bunyi-bunyi yang kelak menuntunnya ke jalan seni.

Di usia remaja, saat teman sebayanya sibuk dengan permainan masa kecil, Lim Hans sudah berani tampil bersama para senior SMA, memegang stik drum, mengetuk ritme yang akan menjadi irama hidupnya kelak.

“Waktu itu saya cuma ingin main musik, tanpa berpikir apa-apa. Tapi dari situlah semuanya bermula,” kenangnya sambil tersenyum di rumahnya yang asri di Jogjakarta, Senin (3/11) lalu mengutip Wartaniaga.com.

Bakat seninya terus tumbuh. Selepas SMA, langkahnya menuntun ke ASRI Jogja, kampus seni ternama yang memperkuat naluri kreatifnya.

Salah satu koleksi foto sketsa Jembatan Sei Alalak Banjarmasin Kalsel karya Lim Hans (Foto: Ist)
Di sana, ia tidak hanya belajar teknik dan teori, tetapi juga memahami seni sebagai wujud panggilan hati.

Usai lulus, ia sempat kembali ke Banjarmasin dan bekerja di perusahaan mebel sebagai desainer interior. Namun suara panggilan itu kembali bergema di dalam dirinya.

“Saya sadar, tempat saya bukan di balik meja kantor,” katanya lirih. Maka ia pun kembali ke Jogjakarta — kota yang telah menjadi panggung bagi jiwanya sebagai seniman sejati.

Di kota pelajar itu, kehidupannya berjalan di antara dunia seni rupa dan musik. Tahun 2003 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Ia memberanikan diri membuka usaha interior sendiri, sembari sesekali mengajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun di sela kesibukan bisnis, musik tak pernah pergi.

Ia kembali naik ke panggung, bermain drum, gitar, piano, organ tunggal—bahkan melukis dan membuat sketsa.

“Saya paling suka main organ tunggal,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Selain bisa bebas berekspresi, honornya juga nggak dibagi.”

Di balik tawanya yang renyah, ada ketulusan seorang seniman yang hidup bukan untuk mengejar kemewahan, tapi untuk tetap setia pada panggilan hatinya.

Saat jenuh datang, ia memilih mengembalikan semangat dengan bermotor bersama sang istri, menjelajahi alam dan menikmati kehidupan dengan sederhana.

Kini, di usia yang tak lagi muda, anak-anaknya mulai memintanya untuk beristirahat. Namun bagi Lim Hans, berhenti dari musik sama saja dengan berhenti bernapas.

“Musik menemukan jalanku,” ucapnya pelan dengan mata berbinar. “Dan aku akan terus bermain… sampai akhir hayat.”

Ia tersenyum tipis, menatap jauh seolah menembus waktu dan sambil menghela nafas panjang, ia berucap, “Kalau ada istilah asing ‘Music Never Die’, mungkin… itu tentangku.”

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
spot_img

Latest Articles