SEPUTARBANUA. COM, Banjarmasin — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan menggungkap indek potensi radikalisme (IPR) di wilayah ini meningkat hingga 5 point.
Hal tersebut dikatakan Ketua FKPT Kalsel, Muhammad Fauzi Makki, pada kegiatan refleksi akhir tahun 2025 terkait upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di Kalsel, di Banjarmasin, Jum’at (19/12) petang.
Ketua FKPT Kalsel, menegaskan meningkatnya Indeks Potensi Radikalisme (IPR) di daerah ini menjadi warning. peringatan dini bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan secara bersama.
“Peningkatan Indeks Potensi Radikalisme ini harus dibaca sebagai alarm bersama. Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat keamanan, tetapi memerlukan peran aktif pemerintah daerah, tokoh agama, pendidik, media, hingga keluarga,” ujar Fauzi Makki.
Berdasarkan data FKPT Kalsel, posisi Kalimantan Selatan pada Indeks Potensi Radikalisme mengalami kenaikan signifikan. Pada 2023, Kalsel berada di peringkat 20 nasional, sementara pada 2024 naik ke peringkat 15 dengan kenaikan sekitar 1,2 poin.
Fauzi Makki mengatakan, semakin naik peringkat, maka semakin tinggi potensi risikonya. Karena itu, perlu adanya penguatan nilai-nilai kebangsaan masyarakat khususnya generasi muda.
Dari hasil penelitian tahun 2024 menunjukkan bahwa remaja rata-rata menghabiskan hampir enam jam per hari berselancar di media sosial. Kondisi tersebut membuka peluang masuknya konten bermuatan radikalisme melalui platform digital yang kerap tersamarkan dalam berbagai bentuk.
Sementara itu, Kabid Penelitian dan Pengkajian FKPT Kalsel, Mukhdiansyah, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 pihaknya telah melaksanakan berbagai program pencegahan radikalisme melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
“Kegiatan pencegahan dilakukan melalui sosialisasi di lingkungan kampus, seperti UIN Antasari, kegiatan kepemudaan dan media, serta penelitian Indeks Risiko Terorisme (IRT) dan Indeks Potensi Radikalisme (IPR),” jelas Mukhdiansyah.
Selain itu, FKPT Kalsel juga menggelar sosialisasi di tiga daerah, yakni Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Utara, dan Barito Kuala. Untuk penelitian IRT, responden melibatkan enam institusi dan organisasi, antara lain Polres, Kodim, Badan Intelijen Negara, Kesbangpol, serta organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Adapun penelitian IPR melibatkan masyarakat umum di enam kabupaten/kota, yakni Tanah Bumbu, Balangan, Tapin, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, dan Banjarmasin.
“Hasil sampling tersebut akan dirilis secara resmi pada Februari atau Maret 2026 saat Rakornas BNPT,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Kabid Media FKPT Kalsel, Zainal Helmi terkait pentingnya peran media dalam upaya pencegahan radikalisme melalui edukasi publik dan literasi digital.
“Pendekatan media dan penguatan literasi digital menjadi strategi penting untuk menjangkau generasi muda yang aktif di ruang digital dalam upaya pencegahan paham radikalisme dan terorisme,” pungkasnya.






